Dari Sampah Jadi Energi: Desa Randupitu Olah Puluhan Ton Sampah Jadi Pengganti Batu Bara


Pasuruan, Radar Nusa
Persoalan sampah masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Pasuruan. Meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi menyebabkan volume sampah terus bertambah setiap hari. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, hingga mempercepat penuhnya kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di tengah persoalan tersebut, Pemerintah Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, menghadirkan inovasi pengelolaan sampah dengan mengolahnya menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif pengganti batu bara.

RDF merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari sampah non-organik seperti plastik melalui proses pencacahan, pengeringan, dan pemadatan. Bahan bakar ini banyak dimanfaatkan industri, seperti pabrik semen dan pembangkit energi, sebagai pengganti batu bara.

Model seperti yang diterapkan di Randupitu dinilai efektif karena Mengurangi beban TPA, Mengolah sampah dari sumbernya (tingkat desa), Memberikan nilai ekonomi dari limbah.

Mochammad Fuad Kepala Desa Randupitu mengatakan, Setiap hari Desa Randupitu mampu mengelola sekitar 10 hingga 12 ton sampah rumah tangga. Dari jumlah tersebut, sekitar 6 ton dihasilkan menjadi RDF, sementara sisanya diolah menjadi kompos. 

"RDF yang dihasilkan kemudian dikirim ke perusahaan sebagai bahan bakar industri pengganti batu bara, sedangkan kompos dimanfaatkan masyarakat untuk penghijauan dan pertanian," Ujarnya.

Mas Fuad sapaan Akrab Kepala Desa Randupitu itu menambahkan sebelum program berjalan, sampah di desa ini umumnya dibakar atau dibuang ke lahan kosong. Kini, pengelolaan dilakukan secara terorganisir melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pemuda Peduli Sampah (PEMPES).

"Program ini tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga Menghasilkan pendapatan puluhan juta rupiah per bulan untuk kas desa dan Membuka lapangan kerja baru bagi warga," tuturnya. 

Mengolah sampah sejak tahun 2017, Desa yang kini dipimpin Mochammad Fuad sebagai Kepala Desa itu berhasil meraih sejumlah penghargaan mentereng baik di Kabupaten hingga Provinsi. Selain itu, Desa Randupitu memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas inovasi pengelolaannya. 

Keberhasilan Desa Randupitu menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat diatasi melalui kolaborasi pemerintah desa, masyarakat, dan dunia usaha. Pendekatan pengolahan berbasis komunitas ini diharapkan dapat direplikasi di desa-desa lain di Kabupaten Pasuruan untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menciptakan ekonomi sirkular.(Tom)

Tidak ada komentar untuk "Dari Sampah Jadi Energi: Desa Randupitu Olah Puluhan Ton Sampah Jadi Pengganti Batu Bara"