Bukan Sekadar Tradisi, Santunan Anak Yatim di Ngerong Jadi Simbol Ukhuwah dan Kepedulian


Pasuruan, Radar Nusa
Bulan suci Ramadhan kembali menjadi momentum mempertebal kepedulian sosial dan mempererat persaudaraan. Pemerintah Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, menggelar kegiatan buka puasa bersama sekaligus memberikan santunan kepada 124 anak yatim, Sabtu (14/3/2026).

Berbalut tema “Indahnya Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadhan untuk Memperkuat Ukhuwah Islamiyah” itu berlangsung khidmat di Pendopo Nggayuh Kemulyaan Desa Ngerong. Suasana religius terasa sejak awal acara, ketika para tamu undangan bersama anak-anak yatim mengikuti doa bersama menjelang waktu berbuka.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Desa Ngerong H. Jemik Sadiman, jajaran perangkat desa, tokoh masyarakat, serta Camat Gempol Hadi Mulyono. Kehadiran para pemangku kepentingan itu menjadi penegas bahwa kegiatan sosial bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari tanggung jawab moral kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Kades Ngerong H. Jemik Sadiman menegaskan bahwa santunan kepada anak yatim bukan hanya agenda rutin tahunan, tetapi juga bentuk rasa syukur sekaligus komitmen pemerintah desa untuk menghadirkan kebahagiaan Ramadhan bagi seluruh warganya.

“Ramadhan adalah bulan kasih sayang. Kami ingin 124 anak-anak ini merasakan bahwa mereka tidak sendiri. Pemerintah desa adalah keluarga besar yang selalu hadir untuk mendukung dan menjaga mereka,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi berbagi tersebut terus dipertahankan karena memiliki nilai sosial dan religius yang kuat. Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dinamis, solidaritas dan kepedulian harus terus dirawat agar tidak luntur.

“Melalui kegiatan ini kami berharap dapat sedikit meringankan beban mereka sekaligus mempererat silaturahmi antara pemerintah desa dengan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Camat Gempol Hadi Mulyono memberikan apresiasi atas konsistensi Pemdes Ngerong dalam menjaga tradisi santunan anak yatim setiap Ramadhan. Ia menilai kegiatan tersebut bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi juga wujud nyata nilai-nilai keislaman yang hidup di tengah masyarakat.

“Sebanyak 124 anak yang hadir hari ini bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah amanah bagi kita semua untuk dijaga, disayangi, dan dipastikan masa depannya,” tegasnya.

Ia juga menilai kegiatan tersebut mencerminkan esensi ukhuwah Islamiyah yang sesungguhnya—persaudaraan yang melampaui batas administratif pemerintahan.

“Inilah makna ukhuwah. Saling merasakan, saling membantu, dan saling menguatkan. Ketika masyarakat dan pemerintah desa berjalan bersama, maka keberkahan Ramadhan benar-benar terasa,” ujarnya.

Menjelang adzan Maghrib, suasana semakin hangat ketika seluruh tamu undangan dan anak-anak yatim duduk bersama menunggu waktu berbuka. Kebersamaan itu menjadi gambaran nyata bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga tentang menghadirkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama.

Di Desa Ngerong, tradisi santunan anak yatim bukan hanya kegiatan tahunan, melainkan pesan moral bahwa keberkahan Ramadhan sejatinya lahir dari kepedulian, kebersamaan, dan keikhlasan berbagi.(Tom)

Tidak ada komentar untuk "Bukan Sekadar Tradisi, Santunan Anak Yatim di Ngerong Jadi Simbol Ukhuwah dan Kepedulian"