Empat Bayi Harimau Sumatera Lahir di TSI Prigen, Secercah Harapan di Tengah Ancaman Kepunahan
Pasuruan, Radar-Nusa.com
Kabar menggembirakan datang dari Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Kabupaten Pasuruan. Di tengah semakin menyusutnya populasi harimau sumatera di alam liar akibat perburuan dan kerusakan habitat, empat bayi harimau sumatera lahir sehat dan membawa secercah harapan baru bagi masa depan satwa langka kebanggaan Indonesia itu.
Empat bayi harimau tersebut lahir dari pasangan indukan Praja dan Dini. Terdiri dari tiga ekor jantan dan satu ekor betina, kelahiran ini menjadi momentum penting dalam upaya penyelamatan harimau sumatera yang kini berstatus Critically Endangered (Kritis) atau satu tingkat sebelum punah di alam liar.
Kelahiran empat bayi sekaligus bukan hanya menjadi kabar bahagia bagi keluarga besar TSI Prigen, tetapi juga bagi dunia konservasi nasional. Sebab, harimau sumatera merupakan subspesies harimau terakhir yang masih bertahan di Indonesia setelah harimau jawa dan harimau bali dinyatakan punah.
Dengan tambahan empat bayi tersebut, populasi harimau sumatera yang dirawat di TSI Prigen kini bertambah menjadi delapan ekor.
Vice President Life Sciences TSI Group, drh. Bongot Huaso Mulia, menyebut kelahiran ini sebagai bukti keberhasilan program pengembangbiakan konservasi ex-situ yang selama ini dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.
«"Fokus pengelolaan harimau sumatera di TSI Prigen bukan sekadar untuk kebutuhan eksibisi. Yang utama adalah meningkatkan populasi mereka sebagai bagian dari upaya konservasi, baik secara regional maupun global," ujarnya, Rabu (3/6/2026).»
Menurutnya, kondisi harimau sumatera di habitat aslinya masih menghadapi tekanan berat. Penyempitan kawasan hutan akibat alih fungsi lahan, konflik manusia dengan satwa liar, hingga perburuan ilegal masih menjadi ancaman nyata yang terus menggerus populasi satwa bernama latin Panthera tigris sumatrae tersebut.
Berbagai penelitian konservasi menunjukkan jumlah harimau sumatera yang tersisa di alam liar diperkirakan hanya beberapa ratus ekor dan tersebar di kantong-kantong hutan Pulau Sumatera. Situasi ini membuat setiap kelahiran individu baru menjadi sangat berharga dalam menjaga keberlangsungan genetik spesies tersebut.
"Ancaman terhadap harimau sumatera saat ini sangat besar, mulai dari kerusakan habitat hingga aktivitas perburuan ilegal yang masih terjadi. Karena itu, setiap kelahiran memiliki arti penting bagi masa depan spesies ini," tambah Bongot.
Bagi dunia konservasi, kelahiran empat bayi harimau ini bukan sekadar bertambahnya jumlah populasi. Lebih dari itu, menjadi indikator keberhasilan pengelolaan satwa langka sekaligus bukti bahwa program konservasi yang dilakukan secara ilmiah mampu memberikan hasil nyata.
"Kelahiran ini merupakan kado istimewa bagi upaya pelestarian satwa asli Indonesia yang kini semakin terancam punah," katanya.
Namun demikian, Bongot menegaskan bahwa penyelamatan harimau sumatera tidak bisa hanya dibebankan kepada lembaga konservasi. Dibutuhkan dukungan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas pecinta lingkungan hingga masyarakat luas.
"Konservasi adalah tanggung jawab bersama. Masa depan harimau sumatera ditentukan oleh sinergi seluruh elemen bangsa," tegasnya.
Kelahiran empat bayi harimau sumatera di Prigen ini menjadi pengingat bahwa harapan masih ada bagi satwa langka Indonesia. Sebab, menjaga harimau sumatera bukan hanya menyelamatkan satu spesies, melainkan menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis Indonesia yang menjadi rumah bagi ribuan flora dan fauna lainnya.
Di tengah berbagai kabar tentang kerusakan lingkungan dan kepunahan satwa liar, raungan empat bayi harimau dari Prigen hari ini menjadi simbol bahwa perjuangan menjaga warisan alam Nusantara masih terus hidup.(Tom)

Tidak ada komentar untuk "Empat Bayi Harimau Sumatera Lahir di TSI Prigen, Secercah Harapan di Tengah Ancaman Kepunahan"
Posting Komentar